Sebelum pulang dari Yogya, saya sempet singgah ke Surabaya untuk menghadiri pernikahan sepupu saya. Tentu saja banyak keluarga dari Bali yang datang juga. Karena telah lama tak saling bertemu maka menu utama ketika berjumpa adalah mengobrol, mengobrol dan mengobrol
Menanyakan kabar, bicara serius maupun guyon bercampur aduk menjadi satu. Saya lebih banyak pasif mendengarkan karena umumnya keluarga yang datang adalah dari generasi seangkatan bapak saya.
Begitu serunya percakapan hingga terkadang suara gelak tawa terdengar riuh terdengar hingga sanggup membuat sekumpulan orang disekitar juga ikut menoleh. Di tengah-tengah suasana itu, saya tiba-tiba mendengar seorang bapak yang juga berasal dari Bali namun saya tidak begitu mengenalnya, lalu bertanya kepada saya, “Dik, ngerti ga apa yang mereka bicarakan? Adik orang bali juga kan? Belajarlah bahasa bali sedikit-sedikit, biar kalau ada orang mengobrol seperti ini bisa ikut menikmati”
Saya hanya tersenyum mendengar bapak tadi
aku ngerti wan handred persen pak, pikirku
Maunya menjawab tapi ga jadi, saya pun hanya mengangguk-angguk seolah mengiyakan apa yang dikatakan bapak tadi. Haduh, cilaka duabelas, apakah tampang saya tidak menunjukkan gelagat orang daerah asli asal saya apa?
Ternyata saya disangka tidak bisa berbahasa bali karena mungkin dikiranya saya telah sejak kecil tinggal di pulau jawa. Apalagi mungkin beliau mendengar bahwa saya datang ke surabaya dari arah barat mencari kitab suci
, bukan datang langsung dari Bali.
Oke, enak juga disangka ga bisa bahasa sendiri. Saya suka diajari sesuatu yang saya sudah tau
nas kleng artinya &^%^&*& mas, ini artinya *&%$# mas, itu artinya **%%$% mas, anu artinya **##@%. Wow saya cepat belajar hehe…